News Update :

Pengertian Mudharabah

Wednesday, December 17, 2008

Mudharabah suatu akad kerjasama kemitraan antara penyedia dana usaha (disebut shahibul maal/rabulmal) dengan pengelola dana/manajemen usaha (disebut mudharib) untuk memperoleh hasil usaha dengan pembagian hasil usaha sesuai porsi (nisbah) yang disepakati bersama pada awal.
Mudharabah berasal dari kata adhdharby fil ardhi yaitu berpergian untuk urusan dagang. Disebut juga qiradh yang berasal dari kata alqardhu yang berarti potongan, karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungan.
Secara teknis mudharabah adalah akad kerjasama usaha atas kerjasama usaha antara pemilik dana dan pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha lain, laba dibagi atas dasar nisbah bagi hasil menurut kesepakatan kedua belah pihak, sedangkan bila terjadi kerugian akan ditanggung oleh pemilik dana kecuali disebabkan oleh misconduct, negligence, atau volation oleh pengelola dana.

Akad mudharabah merupakan suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan merupakan unsur terpenting dalam akad mudharabah, yaitu kepercayaan dari pemilik dana kepada pengelola dana. Kepercayaan ini penting karena antara akad mudharabah, pemilik dana tidak boleh ikut campur di dalam manejemen perusahaanatau proyek yang akan dibiayai dengan dana pemilik dana tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan system keuangan syariah yaitu bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam suatu transaksi harus bersama-sama menanggung resiko (berbagi resiko), dalam hal transaksi mudharabah pemilik dana akan menanggung resiko financial sedangkan pengelola dana akan memiliki resiko nonfinansial. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan Ali r.a:
“pungutan itu tergantung pada kekayaan, sedangkan laba tergantung pada apa yang mereka sepakati bersama,”
Pada prinsipnya dalam mudharabah tidak boleh ada jaminan atas modal, namun demikian agar pengelola dana tidak melakukan penyimpangan, pemilik dana dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga. Tentu jaminan ini hanya bisa dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati dalam akad.
Agar tidak terjadi perselisihan dikemudian hari maka akad/kontrak/perjanjian sebaiknya secara tertulis dan dihadiri para saksi. Dalam perjanjian harus mencakup beberapa aspek antara lain tujuan mudharabah, nisbah pembagian keuntungan, periode pembagian keuntungan, biaya-biaya yang boleh dikurangkan dari pendapatan, ketentuan pengembalian modal, hal yang dianggap sebagai kelalaian pengelola dana dan sebagainya. Sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan atau terjadi persengketaan, kedua belah pihak dapat merujuk pada kontrak yang telah disepakati bersama.
Apabila terjadi perselisihan antara kedua belah pihak maka dapat diselesaikan secara musyawarah oleh mereka berdua atau melalui badan arbitrase syariah.
Usaha mudharabah dianggap mulai berjalan sejak dana atau modal usaha mudharabah diterima oleh pengelola dana (PSAK 105 par. 16) sedangkan pengembalian dana mudharabah dapat dilakukan secara bertahap bersamaan dengan distribusi bagi hasil atau secara total pada saat akad mudharabah berakhir, sesuai kesepakatan pemilik dana dan pengelola dana.
Share this Article on :

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Berkunjung...

 
© Copyright Embun Ekonomi Syariah 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.